DIKSI (PILIHAN KATA)
A. Pengertian Diksi atau Pilihan kata
Jika kita menulis atau berbicara, kita
selalu menggunakan kata. Kata tersebut dibentuk menjadi kelompok kata, klausa,
kalimat, paragraph dan akhirnya sebuah wacana.
Di dalam sebuah karangan, diksi bisa
diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita.
Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk
menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan
gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.
Agar
dapat menghasilkan cerita yang menarik melalui pilihan kata maka diksi yang
baik harus memenuhi syarat, seperti :
·
•Ketepatan dalam pemilihan kata dalam
menyampaikan suatu gagasan.
·
Seorang pengarang harus mempunyai
kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan
gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai
dengan situasi dan nilai rasa bagi pembacanya.
·
Menguasai berbagai macam kosakata dan
mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang jelas,
efektif dan mudah dimengerti.
Contoh
Paragraf :
1).
Hari ini Aku pergi ke pantai bersama dengan teman-temanku. Udara disana sangat
sejuk. Kami bermain bola air sampai tak terasa hari sudah sore. Kamipun pulang
tak lama kemudian.
2).
Liburan kali ini Aku dan teman-teman berencana untuk pergi ke pantai. Kami
sangat senang ketika hari itu tiba. Begitu sampai disana kami sudah disambut
oleh semilir angin yang tak henti-hentinya bertiup. Ombak yang berkejar-kejaran
juga seolah tak mau kalah untuk menyambut kedatangan kami. Kami menghabiskan
waktu sepanjang hari disana, kami pulang dengan hati senang.
Kedua
paragraf diatas punya makna yang sama. Tapi dalam pemilihan diksi pada contoh
paragraph kedua menjadi enak dibaca, tidak membosankan bagi pembacanya.
B.
Syarat-Syarat Pemilihan Kata
1. Makna
Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna dalam alam
wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa
adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang terkandung sebuah kata secara
objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan
misalnya, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah, dan ditelan.
Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.
Makna konotatif adalah makna asosiatif,
makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria
tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna
konotatif dapat berarti untung atau pukul.
Makna konotatif berbeda dari zaman ke
zaman. Ia tidak tetap. Kata kamar kecil mengacu kepada kamar yang kecil
(denotatif) tetapi kamar kecil berarti juga jamban (konotatif). Dalam hal ini,
kita kadang-kadang lupa apakah suatu makna kata adalah makna denotatif atau
konotatif.
2. Makna
Umum dan Khusus
Kata umum dibedakan dari kata khusus
berdasarkan ruang-lingkupnya.
Makin
luas ruang-lingkup suatu kata, maka makin umum sifatnya. Makin umum suatu kata,
maka semakin terbuka kemungkinan terjadinya salah paham dalam pemaknaannya.
Makin sempit ruang-lingkupnya, makin
khusus sifatnya sehingga makin sedikit kemungkinan terjadinya salah paham dalam
pemaknaannya, dan makin mendekatkan penulis pada pilihan kata secara tepat.
Misalnya:
Kata ikan memiliki acuan yang lebih luas
daripada kata mujair atau tawes. Ikan tidak hanya mujair atau tidak seperti
gurame, lele, sepat, tuna, baronang, nila, ikan koki dan ikan mas. Sebaliknya,
tawes pasti tergolong jenis ikan demikian juga gurame, lele, sepat, tuna, dan
baronang pasti merupakan jenis ikan. Dalam hal ini kata acuannya lebih luas
disebut kata umum, seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus
disebut kata khusus, seperti gurame, lele, tawes, dan ikan mas.
3.
Kata abstrak dan kata konkret.
Kata yang acuannya semakin mudah diserap
panca-indra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik,
hangat, wangi, suara. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap panca-indra,
kata itu disebut kata abstrak, seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak
digunakan untuk mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan
secara halus gagasan yang sifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata
abstrak terlalu diobral atau dihambur-hamburkan dalam suatu karangan. Karangan
tersebut dapat menjadi samar dan tidak cermat.
4.
Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang
pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman
kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Kita ambil contoh
cermat dan cerdik kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak
persis sama benar.
Kesinoniman
kata masih berhubungan dengan masalah makna denotatif dan makna konotatif suatu
kata.
5.
Kata Ilmiah dan kata popular
Kata ilmiah merupakan kata-kata logis
dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata
ilmiah biasa digunakan oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan
ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, serta diskusi-diskusi khusus.
Yang membedakan antara kata ilmiah
dengan kata populer adalah bila kata populer digunakan dalam komunikasi
sehari-hari. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan, kata-kata ilmiah digunakan
pada tulisan-tulisan yang berbau pendidikan. Yang juga terdapat pada penulisan
artikel, karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis maupun desertasi.
Agar
dapat memahami perbedaan antara kata ilmiah dan kata populer, berikut
daftarnya:
Kata
Ilmiah Kata populer
Analogi
Kiasan
Final
Akhir
Diskriminasi
perbedaan perlakuan
Prediksi
Ramalan
Kontradiksi
Pertentangan
Format
Ukuran
Anarki
Kekacauan
Biodata
biografi singkat
Bibliografi
daftar pustaka
C.
Pembentukan Kata
Ada dua cara pembentukan kata, yaitu
dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia
terbentuk kosakata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar
terbentuk kata baru melalui unsur serapan.
1.
Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata
Pada
bagian berikut akan diperlihatkan kesalahan pembentukan kata, yang sering kita
temukan, baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis misalnya:.
1.
Penanggalan awalan meng-
2.
Penanggalan awalan ber-
3.
Peluluhan bunyi /c/
4.
Penyengauan kata dasar
5.
Bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/ yang tidak luluh
6.
Awalan ke- yang keliru pemakaian akhiran –ir
7.
Padanan yang tidak serasi
8.
Pemakaian kata depan di, ke, dari, bagi, pada,, daripada dan terhadap
9.
Penggunaan kesimpulan, keputusan, penalaran, dan pemukiman
10.
Penggunaan kata yang hemat
11.
Analogi
12.
Bentuk jamak dalam bahasa indonesia
2.
Definisi
Definisi adalah suatu pernyataan yang
menerangkan pengertian suatu hal atau konsep istilah tertentu. Dalam membuat
definisi hal yang perlu di perhatikan adalah tidak boleh mengulang kata atau
istilah yang kita definisikan.
Contoh
definisi :
Majas personifikasi adalah kiasan yang
menggambarkan binatang, tumbuhan, dan benda-benda mati seakan hidup selayaknya
manusia, seolah punya maksud, sifat, perasaan dan kegiatan seperti manusia.
Definisi terdiri dari :
1.
Definisi nominalis
Definisi
nominalis adalah menjelaskan sebuah kata dengan kata lain yang lebih umum di
mengerti. Umumnya di gunakan pada permulaan suatu pembicaraan atau diskusi.
Definisi
nominalis ada enam macam, yaitu definisi sinonim, definisi simbolik, definisi
etimologik, definisi semantik, definisi stipulatif, dan definisi denotatif.
2.
Definisi realis
Definisi
realis adalah penjelasan tentang isi yang terkandung dalam sebuah istilah,
bukan hanya menjelaskan tentang istilah. Definisi realis ada tiga macam, yaitu
:
-
Definisi esensial, yaitu penjelasan dengan cara menguraikan perbedaan antara
penjelasan dengan cara menunjukkan bagian-bagian suatu benda (definisi
analitik) dengan penjelasan dengan cara menunjukkan isi dari suatu term yang
terdiri atas genus dan diferensia (definisi konotatif).
-
Definisi diskriptif
yaitu
penjelasan dengan cara menunjukkan sifat-sifat khusus yang menyertai hal
tersebut dengan penjelasan dengan cara menyatakan bagaimana sesuatu hal
terjadi.
3.
Definisi praktis
Definisi
praktis adalah penjelasan tentang sesuatu hal yang di jelaskan dari segi
kegunaan atau tujuan. Definisi praktis dibedakan atas tiga macam yaitu:
-
Definisi operasional, yaitu penjelasan dengan cara menegaskan langkah-langkah
pengujian serta menunjukkan bagaimana hasil yang dapat di amati.
-
Definisi fungsional, yaitu penjelasan sesuatu hal dengan cara menunjukkan
kegunaan dan tujuannya.
-
Definisi persuasif, yaitu penjelasan dengan cara merumuskan suatu pernyataan
yang dapat mempengaruhi orang lain, bersifat membujuk orang lain.
3.
Kata Serapan
Kata serapan adalah kata yang di adopsi
dari bahasa asing yang sudah sesuai dengan EYD. Kata serapan merupakan bagian
perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia telah banyak menyerap terutama
dalam unsur kosa kata. Bahasa asing yang masuk dan memberi pengaruh terhadap
kosa kata bahasa Indonesia antara lain dari bahasa Sansekerta, bahasa Belanda,
bahasa Arab, bahasa Inggris dan ada juga dari bahasa Tionghoa. Analogi dan
Anomali kata serapan dalam bahasa Indonesia. Penyerapan kata ke dalam bahasa Indonesia
terdapat 2 unsur, yaitu:
-
Keteraturan bahasa (analogi) : dikatakan analogi apabila kata tersebut memiliki
bunyi yang sesuai antara ejaan dengan pelafalannya.
-
Penyimpangan atau ketidakteraturan bahasa (anomali) : dikatakan anomali apabila
kata tersebut tidak sesuai antara ejaan dan pelafalannya.
4.
Analogi
Karena analogi adalah keteraturan
bahasa, tentu saja lebih banyak berkaitan dengan kaidah-kaidah bahasa, bisa
dalam bentuk sistem fonologi, sistem ejaan atau struktur bahasa. Ada beberapa
contoh kata yang sudah sesuai dengan sistem fonologi, baik melalui proses
penyesuaian ataupun tidak, misalnya :
Menurut taraf integrasinya unsur
pinjaman ke dalam bahasa asing dapat dibagi dua golongan. Pertama unsur
pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia. Unsur
seperti ini di pakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi penulisan dan pengucapannya
masih mengikuti cara asing. Kedua unsur pinjaman yang pengucapan dan tulisannya
telah di sesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
5.
Anomali
Indonesia
Aslinya
bank
bank (Inggris)
Intern
intern (Inggris)
qur’an
qur’an (Arab)
jum’at
jum’at (Arab)
Kata-kata di atas merupakan beberapa
contoh kata serapan dengan unsur anomali. Bila kita amati, maka akan dapat di
simpulkan bahwa lafal yang kita keluarkan dari mulut dengan ejaan yang tertera,
tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Hal yang tidak sesuai adalah :
bank=(nk), jum’at=(’).
Kata-kata
asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia secara utuh tanpa mengalami
perubahan penulisan memiliki kemungkinan untuk di baca bagaimana aslinya,
sehingga timbul anomali dalam fonologi. Contoh :
Indonesia
Aslinya
Expose
Expose
Export
Export
exodus
Exodus
Kata kadang-kadang tidak hanya terdiri
dari satu morfem, ada juga yang terdiri dari dua morfem atau lebih. Sehingga
penyerapannya dilakukan secara utuh. Misalnya :
Indonesia
Aslinya
Federalisme
federalism (Inggris)
Bilingual
bilingual (Inggris)
Dedikasi
dedication (Inggris)
Edukasi
education (Inggris)
Diksi dapat diartikan sebagai pilihan
kata pengarang untuk menggambarkan cerita mereka. Diksi bukan hanya berarti
pilih-memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan
atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa,
ungkapan-ungkapan dan sebagainya. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang
bertalian dengan ungkapan-unkapan individu atau karakteristik, atau memiliki
nilai artistik yang tinggi.
Sebelum
menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni:
masalah makna dan relasi makna.
1.Makna
sebuah kata / sebuah kalimat mrpkan makna yang tidak selalu berdiri sendiri.
Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
a).
Makna Leksikal dan makna Gramatikal
Makna Leksikal adalah makna yang sesuai
dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera / makna yg
sungguh-sungguh nyata dlm kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya
adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam
kucing).
Makna
Gramatikal adalah untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna
gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses
reduplikasi seperti kata: buku yg bermakna “sebuah buku,” menjadi buku-buku yang
bermakna “‘ banyak buku.”
b).
Makna Referensial dan Nonreferensial
Makna referensial & nonreferensial perbedaannya
adalah berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu
mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Kata
bermakna referensial, kalau mempunyai referen, sedangkan kata bermakna
nonreferensial kalau tidak memiliki referen. Contoh: Kata meja dan kursi
(bermakna referen). Kata karena dan tetapi (bermakna nonreferensial)
c).
Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna
asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata kurus,
bermakna denotatif keadaan tubuhnya yang lebih kecil & ukuran badannya
normal.
Makna
konotatif adalah: makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang
berhubungan dengan nilai rasa orang / kelompok orang yang menggunakan kata
tersebut. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral,
artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping
bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang
mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.
d).
Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Makna konseptual adalah makna yang
dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Contoh:
Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yg bisa
dikendarai”.
Makna
asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem / kata berkenaan dengan
adanya hubungan kata itu dengan suatu yang berada diluar bahasa . Contoh: Kata
melati berasosiasi dg suatu yg suci / kesucian. Kata merah berasosiasi berani /
paham komunis.
e).
Makna Kata dan Makna Istilah
Makna kata, walaupun secara sinkronis
tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi
bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam
suatu kalimat. Contoh: Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan,tapi bisa juga
hasil perbuatan menahan. Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas,
di bak mandi atau air hujan.
Makna
istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna
istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau
keilmuan tertentu. Contoh: Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di
bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu
perkara.
f).
Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Yang dimaksud dengan idiom adalah
satuan-satuan bahasa (ada berupa baik kata, frase, maupun kalimat) maknanya
tidak dapat diramalkan dari makna leksikal, baik unsur-unsurnya maupun makna
gramatikal satuan-satuan tersebut. Contoh: Kata ketakutan, kesedihan,
keberanian, dan kebimbangan memiliki makna hal yg disebut makna dasar, Kata
rumah kayu bermakna, rumah yang terbuat dari kayu.
Makna pribahasa bersifat
memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama
perumpamaan. Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dalam
peribahasa
g).
Makna Kias dan Lugas
Makna kias adalah kata, frase dan kalimat yang tidak
merujuk pada arti sebenarnya.
PARAGRAF / ALINEA
Pengertian
Paragraph adalah suatu
bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara
penulisannya harus dimulai dengan baris baru, yang memiliki suatu tujuan dan
ide. Paragraph dikenal dengan nama alinea. Paragraph dibuat dengan membuat kata
pertama pada baris pertam masuk kedalam, awal paragraph ditandai dengan
masuknya ke baris baru. Demikian pula dengan paragraph berikutnya mengikuti
seperti paragraph pertama.
Syarat Paragraph.
1. Kesatuan
Merupakan bagian
karangan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berkaittan secara utuh dan
padu serta membentuk satu kesatuan pikiran.
Sebuah alinea yang
mempunyai kesatuan bisa saja mengandung beberapa hal atau beberapa perincian,
tetapi semua unsur tadi haruslah bersama-sama digerakkan untuk menunjang maksud
tunggal. Maksud tungggal itulah yang ingin disampaikan penulis dalam alinea itu
(Keraf, 1980:67).
2. Kepaduan
Syarat kedua yang harus
dipenuhi sebuah paragraf adalah bahwa paragraf tersebut harus mengandung
koherensi atau kepaduan yang baik.
Kepaduan yang baik itu
terjadi apabila hubungan timbal balik antara kalimat-kalimat yang membina
paragraf tersebut, baik, wajar, dan mudah dipahami tanpa kesulitan. Pembaca
dengan mudah mengikuti jalan pikiran penulis, tanpa merasa bahwa ada sesuatu
yang menghambat atau semacam jurang yang memisahkan sebuah kalimat dari kalimat
lainnya, tidak terasa loncatan-loncatan pikiran yang membingungkan (Keraf,
1980:75).
3. Kejelasan
Suatu paragraph
dikatakan lengkap, apabila kalimat topic ditunjang oleh sejumlah kalimat penjelas.
4. Kohesi
Kohesi disini
menunjukkan hubungan bentuk-bentuk bagian-bagian dalam suatu paragraph. Kohesi
adalah keterkaitan setiap kalimat yang ada di dalam paragraph dengan cara
perwujudan bentuk :
a. Kata
Transisi(kata sambung)
b. Kata
ganti (promina)
c. Kata
tunjuk (demonstrative)
d. Kata
ulang(repetisi).
5. Koherensi
Koherensi adalah
keterkaitan makna antara bagian-bagian paragraph. Paragraph yang dikatakan
memenuhi syarat koheresi bila kalimat-kalimat yang membina paragarf itu secara
bersama-sama menyatakan suatu hal atau tema tertentu.
Di dalam sebuah paragraph harus memuat dua bagian
penting yaitu :
1.Kalimat Pokok
Biasanya diletakkan
pada awal paragraph, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun
akhir paragraph. Kalimat pokok adalah kalimat yang merupakan ide dari sebuah
paragraph.
2.Kalimat Jelas
Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan
penjelasan tambahan dari kalimat pokok suatu paragraph.
Macam-macam paragraph
Paragraph dalam bahasa Indonesia dapat secara umum
dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
Menurut posisi kalimat topiknya, dibedakan kembali
menjadi beberapa bagian sebagai berikut :
1.Paragraph Deduktif
Paragraph dimana
kalimat topic ditempatkan pada awal paragraph, lalu menyusul uraian atau
rincian permasalahan paragraph. Atau dengan kata lain kalimat utamanya terletak
di awal paragraph dan selanjutnya diikuti oleh kalimat penjelas untuk mendukung
kalimat utamanya.
Contoh :
Indonesia dikenal
sebagai negara maritim. Oleh sebab itu, Indonesia kaya akan hasil laut, antara
lain ikan dan mutiara. Selain itu, Indonesia juga kaya akan objek wisata
maritim.
Paragraf
induktif
Paragraf dimana kalimat
topic ditempatkan pada akhir paragraph. Dan kalimat penjelas di tempatkan di
awal kalimat. Atau dengan kata lain dapat di katakan saat membuat paragraph ini
terlebih dahulu kita menuliskan kalimat penjelasnnya. Baru setelah itu kalimat
utamanya di tentukan.
Cirri-ciri kalimat induktif
-
Terlebih dahulu menyebutkan
peristiwa-peritiwa khusus
-
Kemudia, menarik kesimpulan berdasarkan
peristiwa-peristiwa khusus
-
Kesimpulan terdapat diakhir paragraph
-
Menemukan kalimat utama, gagasan utama,
kalimat penjelas.
Jenis paragraph induktif :
-
Generalisasi
-
Analogi
-
Klasifikasi
-
Perbandingan
-
Sebab akibat
Contoh :
Setelah diadakan
peninjauan ke Desa Pekayon Bekasi, diketahui presentase penggunaan listrik di
Rw 01 desa tersebyt sebanyak 90%. Rumah penduduk yang telah menggunakan
listrik, di RW 02 sebanyak 95%, RW 03 sebanyak 100% dab RW 04 sebanyak 85%.
Boleh dikatakan, di Desa pekayon 92% rumah penduduk sudah menggunakan listrik.
Menurut isinya dapat dibedakan menjadi beberapa
bagian sebagai berikut :
paragrafh
persuasive
Paragraf yang
mempromosikan sesuatu dengan cara mempengaruhi atau mengajak pembaca. Didalam
paragraph ini mempunyai cirri yaitu adanyak ajakan atau bujukan untuk berbuat
sesuatu.
paragraph argumentative
Paragraph yang
membahasa suatu masalah dengan bukti-bukti atau alasan yang medukung. Didalam
paragraph ini adanya pendapat dan alasan.
Paragraf
deskriptif
Paragraf yang
menuturkan peristiwa atau keadaan dalam bentuk cerita. Didalam paragraph ini
terdapat adanya kejadian, ada pelaku dan ada waktu kejadian.
Paragraf
Ekspositoris
Paragraph yang
memaparkan suatu fakta atau kejadian tertentu. Didalam paragraph ini adanya
suatu informasi.
KALIMAT
EFEKTIF (PENGERTIAN, CIRI DAN CONTOH KALIMAT EFEKTIF)
Salah
satu problem penulis pemula adalah abai terhadap efektifitas kalimat. Mereka
terkadang tidak hirau terhadap hal itu karena obsesi menulis sebanyak mungkin
kata. Tak jadi soal jika kalimat-kalimat yang dihasilkannya tidak efektif,
bahkan salah secara tata bahasa.
Sah-sah
saja sebenarnya jika hanya diniatkan untuk melancarkan gerak tangan dalam
menulis. AS Laksana menyarankan hal demikian. Kecakapan dalam menulis bisa
dimulai dengan mengetikkan apa yang ada di dalam kepala tanpa perlu
mengoreksinya. Namun, pada teknik menulis AS Laksana, ada tahapan selanjutnya
yang tidak boleh diabaikan, yaitu tahap editing.
Jadi,
membuat kalimat-kalimat efektif dalam tulisan itu tetap penting. Lalu, apa
sebenarnya kalimat efektif itu?
Pengertian Kalimat Efektif
Dalam
buku “Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi”, E. Zainal Arifin dan
S. Amran Tasai menyebutkan bahwa, kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki
kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca
seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Ketidakefektifan
kalimat dapat membuat pesan yang disampaikan pembicara atau penulis tereduksi,
sehingga akan beda maknanya saat ditangkap oleh pendengar atau pembicara.
Ciri-Ciri Kalimat
Efektif :
1.
KESATUAN
GAGASAN
Memiliki
subyek,predikat, serta unsur-unsur lain ( O/K) yang saling mendukung serta
membentuk kesatuan tunggal.
Di dalam keputusan
itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.
Kalimat ini tidak
memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu
bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu merupakan
keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus
dihilangkan).
2.
KESEJAJARAN
Memiliki kesamaan
bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan
di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak
itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut
tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan
predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat
pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.
Kalimat itu harus
diubah :
1. Kakak menolong
anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan
2. Anak itu
ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
3.
KEHEMATAN
Kalimat efektif
tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang berlebih.
Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.
Bunga-bunga mawar,
anyelir, dan melati sangat disukainya.
Pemakaian kata
bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir,dan
melati terkandung makna bunga.
Kalimat yang benar
adalah:
Mawar,anyelir, dan
melati sangat disukainya.
4.
PENEKANAN
Kalimat yang
dipentingkan harus diberi penekanan.
Caranya:
• Mengubah posisi
dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di depan
kalimat.
Contoh :
1. Harapan kami
adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain
2. Pada kesempatan
lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
• Menggunakan
partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan
–kah.
Contoh :
1. Saudaralah yang
harus bertanggung jawab dalam soal itu.
2. Kami pun turut
dalam kegiatan itu.
3. Bisakah dia
menyelesaikannya?
• Menggunakan
repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting.
Contoh :
Dalam membina
hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak,
antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling
memahami antara satu dan lainnya.
• Menggunakan
pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan
makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.
Contoh :
1. Anak itu tidak
malas, tetapi rajin.
2. Ia tidak
menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan menyeluruh.
5.
KELOGISAN
Kalimat efektif
harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus
memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh :
Waktu dan tempat
saya persilakan.
Kalimat ini tidak
logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak
dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;
Bapak penceramah,
saya persilakan untuk naik ke podium.
Contoh kalimat
efektif :
1. Saran yang di
kemukakannya kami akan pertimbangkan ( tidak efektif )
Seharusnya : Saran
yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
2. Sejak dari pagi
dia bermenung ( tidak efektif )
Seharusnya : Sejak
pagi dia bermenung.
http://imstuff-it.blogspot.co.id/2014/10/diksi-atau-pemilihan-kata.html
http://bagus-sistem.blogspot.com/2013/10/tugas-5-dan-tugas-6-bahasa-indonesia-1.html
http://zaenal-zaeblogs.blogspot.com/2012/04/pengertian-kalimat-efektif.html
https://taufikhidayatzein.wordpress.com/2013/11/05/kalimat-efektif-ciri-ciri-dan-contoh-kalimat-efektif/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimat
http://efankhonghucu.blogspot.co.id/2010/10/paragraf-alinea.html
http://bagus-sistem.blogspot.com/2013/10/tugas-5-dan-tugas-6-bahasa-indonesia-1.html
http://zaenal-zaeblogs.blogspot.com/2012/04/pengertian-kalimat-efektif.html
https://taufikhidayatzein.wordpress.com/2013/11/05/kalimat-efektif-ciri-ciri-dan-contoh-kalimat-efektif/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimat
http://efankhonghucu.blogspot.co.id/2010/10/paragraf-alinea.html
No comments:
Post a Comment